English
 
  11 Maret 2009
Alif Selektif Lakukan Pembiayaan

Belum ada sindikasi proyek besar yang ditangani Alif

Jakarta - Kondisi ekonomi yang dinilai masih tak menentu membuat perusahaan pembiayaan syariah, Al Ijarah Finance (Alif), bersikap selektif terhadap sektor yang akan dibiayai. Direktur Alif, Farouk Abdullah Alwyni, mengatakan adanya return tinggi membuat pihaknya masih wait and see.

”Dengan sukuk yang return-nya 11 persen, untuk private bisa 14 - 15 persen. Itu pun kalau struktur perusahaan bagus,” kata Farouk saat dihubungi Republika, Selasa (10/3).

Untuk pembiayaan sekarangpun, tambahnya, belum ada sindikasi proyek besar yang ditangani Alif. Saat ini pembiayaan baru sebatas yang memiliki nominal kecil, seperti mesin cetak.

Dalam kondisi saat ini pun, kata Farouk, sejumlah perusahaan meminta perpanjangan masa pembayaran. Misalnya sebuah perusahaan besi dengan pembiayaan sekitar Rp 150 miliar yang meminta perpanjangan waktu dari 30 bulan menjadi 60 bulan. ”Sekarang sedang kita analisis. Kalau genuine akan kita akomodasi dari pada default,” kata Farouk.

Selain perusahaan besi juga terdapat perusahaan kapal yang meminta perpanjangan waktu. Ia pun berharap suku bunga BI yang turun menjadi 7,75 persen dapat segera berdampak.

Saat ini Alif terlebih dulu akan fokus pada tiga hal, yaitu rights issue, jasa asuransi ekspor melalui Islamic Corporation for The Insurance of Investment and Export Credit (ICIEC), dan perusahaan joint venture Alif dengan Bank Muamalat dan National Bond Corporation.

Untuk penambahan modal Alif, kata Farouk, pihaknya sedang menyeleksi investor potensial untuk dibahas dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) dalam mendapatkan approval. RUPS Alif sebelumnya dijadwalkan di bulan ini namun tertunda hingga April. Alif yang mulai beroperasi pada 2007 dimiliki oleh tiga lembaga keuangan, yaitu Bank Muamalat Indonesia, Bank Boubyan Kuwait, dan International Leasing and Investment Company (ILIC) Kuwait. Rights issue yang direncanakan sebesar Rp 525 miliar pun akan menunggu hingga RUPS mendatang.

Sementara, untuk perusahaan join venture Alif, kata Farouk, diharapkan bisa beroperasi sesuai target yaitu di pertengahan tahun ini. Salah satu produk perusahaan yang memiliki mekanisme saving and investment ini, lanjutnya, adalah sukuk.

Untuk kerja sama dengan ICIEC, Alif pun akan fokus pada pembentukan customer base. Saat ini sudah terdapat dua perusahaan yang tertarik dengan asuransi ekspor ICIEC, yaitu perusahaan udang dan kain katun dengan total sekitar 60 juta dolar AS.

Melihat dari kondisi ekonomi saat ini, Farouk mengatakan pihaknya telah memiliki target. Walau ia enggan mengungkapkan angka pasti, tapi ia berharap setidaknya pertumbuhan bisa sama seperti tahun lalu. Di 2008 Alif menyalurkan pembiayaan dengan total Rp 564 miliar dan 34,5 juta dolar AS. dari total pembiayaan di 2008 sebesar Rp 564 miliar, sebanyak Rp 127 miliar diantaranya berasal dari pembiayaan internal Alif. Sementara di 2007 menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 39,18 miliar. Dari pembiayaan di 2008, sebanyak 30 persen disalurkan ke sektor transportasi, minyak dan gas (10 persen), pertambangan (15 persen), industri (28 persen), dan kesehatan (3 persen).

Proyek listrik

Sementara itu, Alif juga berencana mempertimbangkan mengubah mata uang yang akan digunakan dalam rencana proyek listrik (power plant) di Sulawesi. Hal tersebut disebabkan masih fluktuatifnya kurs dolar AS saat ini antara Rp 11 ribu hingga Rp 12 ribu.

Farouk mengatakan, pihaknya mempertimbangkan mengubah mata uang yang digunakan dalam proyek senilai 25 juta dolar AS tersebut. ”Dalam kondisi sekarang sepertinya akan menggunakan rupiah, tapi dilemanya menggunakan rupiah adalah kita tidak bisa ajak orang luar,” kata Farouk. Namun, tambahnya, hal tersebut masih akan tergantung dari klien, apakah menggunakan rupiah atau dolar.

Proyek tersebut, kata Farouk, akan memiliki profit margin 17 - 18 persen. Saat ini Alif pun masih mencari investor yagn tertarik ikut dalam proyek itu.

Sumber: Republika (Rabu, 11 Maret 2009, halaman 20)


 
 
© 2009 al-ijarah indonesia finance / powered by